Hanura dan Gerindra Bakal Saling Berhadap-Hadapan

(berpolitik.com): Lain yang terlihat, lain yang tersirat. Itulah kesan sejumlah pengamat terhadap Hanura alias Hati Nurani Rakyat. Dengan menilik figur Wiranto dan para jenderal yang masih setia berbaris dibelakangnya, Hanura diyakini berwarna "full nasionalis".

Tapi, benarkah partai ini bakal menyasar pemilih dari kalangan nasionalis yang notabene yang menjadi ladang suara PDIP dan segenap partai pecahannya? Para pengamat dan konsultan kampanye yang dihubungi berpolitik justru memberikan analisis yang berbeda.

Sumber-sumber ini meyakini, Hanura bakal berupaya mencuri suara Golkar yang kerap digolongkan sebagai partai "nasionalis religius". Bekal untuk memangkas kerindangan pohon beringin, bukan tak ada.

Dari sisi figur, Wiranto diyakini mampu menggoda pemilih tradisional partai ini dari jalur A alias ABRI. Tapi, jangan salah, suara yang mampu didulang dari jalur ini tak banyak-banyak amat.

Suara yang lebih signifikan justru bakal mengalir dari faksi-faksi Islam di PG. Suara dari kalangan faksi muslim moderat bakal digergaji melalui jalur HMI. Dalam hal ini, Hanura diketahui menjadi tempat manggungnya para politikus asal HMI. Bahkan, lebih dari pada itu, Hanura juga berpotensi merengkuh faksi Islam garis keras yang semula berhimpun di Golkar.

Untuk menjangakau yang terakhir itu, Hanura punya modal sosok Wiranto dan juga Fuad Bawazier. Sebagaimana diketahui, Wiranto kadung dikenal lama menjalin dan membina hubungan dengan barisan Islam garis keras. Dan, bukan kebetulan, Fuad yang notabene ketua KAHMI juga diketahui mempunyai hubungan yang baik dengan elit dari faksi ini.

Tapi, tak hanya Golkar yang harus ketar-ketir. Menurut sumber berpolitik, PKS juga perlu segera siap-siap jika tak ingin kehilangan suara. Soalnya, Hanura diyakini tengah membidik pemilih PKS yang berasal dari jalur "dakwah" alias non-politik.




Jalur tersebut umumnya menempatkan Ustad Ihsan Tandjung sebagai figur sentral mereka. "Dengan kekecewaan yang semakin meluap, bukan tak mungkin para pemilih PKS dari jalur ini bakal hijrah ke Hanura," kata seorang konsultan kampanye.Hal ini sejatinya juga sudah tersirat dari pernyataan beberapa pengurus Hanura Jakarta yang sudah sesumbar bakal menggerus suara PKS di wilayah ini.

Dan, masih ada lagi partai yang bakal dibuat repot dengan keberadaan Hanura. Ya, partai itu tak lain PBR. Untuk menggerus suara partai ini, Hanura bakal menggandalkan sosok Djafar Bajeber. Bajeber setidaknya diketahui mempunyai pengaruh yang luas di Jakarta, baik sewaktu masih jadi kader PPP maupun setelah loncat ke PBR.

Meski begitu, jangan salah. Partai-partai yang bakal digerus ini tentu saja tak bakal tinggal diam. Apalagi, masih ada partai baru lain yang diyakini bakal menghadang Hanura. Ya, partai baru yang bisa merepotkan Hanura salah satunya adalah Gerindra yang diyakini merupakan kendaraan politiknya Prabowo.

Mengapa Gerindra bisa merepotkan langkah Hanura? Selain faktor personal antara Prabowo dengan Wiranto yang hingga kini belum tuntas, pergesekan di antara kedua partai itu juga bersumber dari kesamaan target pemilih.

Sebagaimana Hanura, Gerindra terlihat di luar lebih mencerminkan diri sebagai partai nasionalis. Namun, jika menilik figur-figur utama di belakangnya, diyakini Gerindra juga bakal menyasar ke kalangan pemilih yang mirip dengan Hanura.

Soalnya, Prabowo juga diketahui mempunyai kedekatan dengan kelompok-kelompok Islam garis keras. Bahkan, dibandingkan Wiranto, Prabowo lebih kental citra "ABRI hijau"-nya ketimbang Wiranto yang sudah kadung digolongkan sebagai ABRI "merah putih".

Sudah begitu, Prabowo juga diketahui masih memelihara hubungan dengan kalangan Masyumi melalui putra-putri mereka. Ini tak bisa dilepaskan dari figur bapaknya, ekonom kondang alm. Soemitro Djojohadikusumo. Soemitro diketahui menjalin perkawanan akrab dengan para tokoh Masyumi tatkala sama-sama bergabung dalam PRRI yang diletuskan sebagai ungkapan kejengkelan terhadap pemerintah Soekarno yang dianggap pro PKI dan "Jawa sentris".

Dengan peta seperti ini,apakah Gerindra bakal bisa mengusik Hanura? Terlalu dini untuk menyimpulkannya saat ini. Yang bisa dikatakan, kehadiran dua partai ini sejatinya semakin mempertajam kompetisi partai-partai yang ingin mewarisi suara Masyumi pada pemilu 1955. Dari kalangan partai lama telah ada PBB,PAN,PKS dan juga Golkar. Dari kalangan partai baru juga ada PMB.

Nah, siapakah di antara mereka yang kali ini lebih beruntung?

1 komentar:

Andri Faisal said...

bos kalau saya yakin PKS solid. NGak bakal ihsan tanjung keluar dati PKS insya allah.

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template