Kalau Sekadar Ikuti Akal Sehat, PKS Pasti Calonkan Kang Dayat

(berpolitik.com): Sebenarnya, tak ada yang terlalu baru dari apa yang dilontarkan Tifatul Sembiring maupun tangkisan yang diucapkan Megawati. Kalaupun kemudian bursa capres mendadak menghangat lebih karena keingintahuan sebagaian kalangan untuk menerka apa yang sesungguhnya terjadi dibalik "sahut-sahutan" di antara dua petinggi partai yang sama-sama punya basis massa yang terbilang solid itu.

Wacana Pemimpin "Balita" alias bawah lima puluh tahun sudah dikumandangkan setidaknya sejak setahun lalu. Keharusan mereka yang tua dan terbukti gagal untuk keluar dari bursa pencalonan juga sudah pernah dilontarkan oleh sejumlah pihak.

Dan, tantangan untuk berkontestasi yang diucapkan Megawati juga tidak baru-baru amat. Sejumlah pimpinan di atas "balita" juga sudah pernah menyampaikannya. Bahkan Jusuf Kalla malah balik menyindir bahwa kaum muda jangan merengek-rengek minta kekuasaan.

Siapa Yang Disasar Tifatul?
Yang sebenarnya menjadi persoalan adalah, mengapa Megawati harus merespon ucapan Tifatul. Sebab sejumlah kalangan menganggap pernyataan Tifatul tidak secara khusus mengarah ke Mega.

Perhatikan saja kalimat yang diutarakan Tifatul: "Ada yang pernah gagal tapi kepingin lagi maju. No way. Silakan minggir. Pemimpin baru itu balita di bawah lima puluh tahun," ungkapnya.

Bagi sebagian orang, ungkapan "ada yang gagal tapi kepingin lagi maju" masih multi-makna. Ini bisa saja merujuk kepada para bekas presiden atau bahkan presiden yang tengah menjabat. Jika tafsirnya seperti itu, maka ucapkan tersebut tidak khusus mengarah ke Megawati, tetapi bisa pula mengarah kepada Gus Dur ataupun SBY.

Tapi, ungkapan tersebut bisa pula diarahkan kepada mantan kandidat presiden yang sudah keok pada pilpres 2004 lalu. Dalam hal ini, sasaran tembaknya bertambah banyak: dari mulai Amien Rais hingga Wiranto.

Bila diartikan sesuai konteks wacana yang berkembang, ucapan Tifatul bisa pula dimaknai sebagai pernyataan politik bahwa PKS menghendaki capres tunggal dari partai-partai "Islam" haruslah di bawah lima puluh tahun. Jadi, kalau PAN,PBB,PPP atau bahkan PKB mau serius mereka sudah seharusnya mengajukan nama yang memenuhi kriteria tersebut jika hendak tetap menggandeng PKS.

Tapi, memang, jika kemudian Megawati terlihat tersinggung bisa pula dibenarkan. Hal ini terutama sekali jika sinyalemen sejumlah kalangan benar adanya: PKS dan PDIP diam-diam tengah menjajaki kemungkinan berkoalisi.

Koalisi antara keduanya cukup rasional dan berbobot jika SBY yang semakin merosot popularitasnya langsung menggandeng Sri Sultan HB X. Duet ini memang bakal menjadi ancaman serius bagi PDIP dan sekaligus meminggirkan PKS yang sejatinya masih membuka peluang berkoalisi dengan PD meski terus mengkritisi kinerja SBY-JK.

Jika keduanya bergandeng tangan memang menjadi simbol koalisi Islam dan nasionalis yang kuat. Meski begitu, koalisi antara keduanya memang bukan tak mungkin bakal menghadirkan dilema ke internal masing-masing partai.

Nah, dalam konteks itulah, Mega merasa ucapan Tifatul menjadi "tidak patut". Karena itu pula, Mega langsung membuka tantangan terbuka agar Tifatul-lah yang maju berkontestasi. Tantangan ini sepertinya sebuah sindiran politik. Pasalnya, Megawati pasti mafhum bahwa calon yang paling mungkin dari PKS hanyalah Hidayat Nur Wahid.

Hidayat Meyaingi Partainya
Kang Dayat, begitu para kadernya memanggil Hidayat, terbilang calon yang elektibilitas dengan tren meningkat. Hingga Januari 2008, umpamanya, nama Hidayat belum "mentas" di polling-polling meski dirinya sudah mulai disebut-sebut sebagai capres alternatif di media massa. Pada suvei Februari silam oleh Reform Institut, tingkat elektibilitas Hidayat baru 3,3% (sebagai capres)

Selanjutnya, pada survei Indobaromenter (Juni 2008), nama Hidayat dimasukkan dalam jajaran cawapres. Hasilnya bertengger di nomor tiga (10,7%), masih dibawah HB X (19,9%) dan Jusuf Kalla (12,3%).

Pada survei terakhir Juli (CSIS), tingkat elektibilitas Hidayat dalam posisi capres sudah 7,9%, melampaui Jusuf Kalla (4,2%), Wiranto (7,6%). Dalam hal ini, Hidayat hanya kalah dari dua capres terkuat SBY dan Mega serta sedikit di bawah Sri Sultan (8,8%).

Dengan mengeluarkan HB X yang belum dilamar parpol, posisi Hidayat terbilang ciamik. SBY dan Megawati memang mengatasi elektibilitas partai yang mengusungnya. Dengan kata lain, kebesaran Mega dan SBY melampaui kebesaran PDIP dan PD. Sebaliknya, Hidayat dan Jusuf Kalla masih kalah pamor ketimbang PKS dan Golkar.

Tapi, dibandingkan Jusuf Kalla, Hidayat pastilah lebih moncer. Soalnya, jarak antara Hidayat dengan PKS relatif lebih berhimpit ketimbang JK dengan Golkar. Lihat saja hasil survei CSIS. Perolehan JK-PG adalah 4,2 % - 18,1%, sedangkan perolehan Hidayat-PKS adalah 7,9% - 11,8%. Survei sebelumnya (Reform) menunjukkan fenomena yang sama: perolehan JK-PG adalah 1,6 % - 16,1%, sedangkan pencapaian Hidayat - PKS adalah 3,3% - 5 %.

Garis yang Berbeda
Hanya saja, melesatnya popularitas Hidayat nyatanya diam-diam menuai masalah di tingkat internal. Soalnya, sebagai partai kolektif hal itu nyatanya malah menghadirkan dilema. Di satu sisi, kepopuleran Hidayat dipastikan bakal mendongkrak pula popularitas partai. Tapi, jika Hidayat terus melesat dan melampaui popularitas partai, situasinya bisa berbalik menjadi sumber guncangan bagi partai.

Sebab, berbeda dengan PDIP dan PD, PKS adalah partai kolektif yang tidak mau tergantung pada kepopuleran individual. Nah, jika Hidayat terus meroket, dikhawatirkan perkembangan PKS jadi sangat tergantung kepada kinerja Hidayat.

Ini masih dibumbui dengan perbedaan yang mulai mencolok antara Hidayat dengan petinggi-petinggi PKS lainnya yang kini memegang tampuk pimpinan partai. Perbedaan itu, misalnya, menyangkut sikap terhadap poligami.

Dalam hal ini, Hidayat secara demonstratif menunjukkan baru mau menikah kembali setelah istrinya telah wafat. Ini berbeda dengan sikap dan perilaku elit PKS tertentu yang lebih menganggap poligami bukanlah sebuah masalah. Kalaupun jadi masalah lebih untuk konsumsi ke luar partai. Karena itulah, ada edaran yang menyebutkan, untuk kader yang hendak mengejar jabatan publik agar menunda dulu soal keigninan beristri lagi.

Ditarik lebih jauh, perbedaan Hidayat semakin menganga karena sejatinya Hidayat disebut-sebut merupakan faksi terpisah dari yang ada saat ini. Sebuah sumber menyebutkan, pengelompokan di tubuh PKS secara sederhana bisa dipilah menjadi tiga.Yakni kubu rejim (Hilmi Aminuddin, Anis Matta, Fachri Hamzah, dll), kubu Depok (yang menempatkan Ihsan Tandjung sebagai "tetuanya") serta kubu independen dimana figur Hidayat dimasukkan. Kubu independen secara berseloroh disebut sebagai kubu yang tidak berpihak ke kubu politik (Hilmi dkk) ataupun kubu dakwah (Ihsan dkk).

Kalau menilik hasil-hasil survei dan penerimaan publik, semestinya tak ada hambatan bagi PKS untuk memajukan Hidayat sebagai capres / cawapres dari partai ini. Tapi, jikalau soal-soal di atas turut dipertimbangkan, Hidayat bukan tak mungkin bakal tergusur dari bursa pencalonan capres maupun wapres.

Yang sudah pasti, PDIP sepertinya sudah patah arang dengan PKS lantaran ucapan Tifatul. Itu artinya kans menggandeng Hidayat bergandengan tangan dengan calon PDIP pun meredup secara drastis.

Jika benar ada pertimbangan lain dan PDIP pun sudah mutung, ini tentu kabar duka bagi simpatisan dan kader PKS yang menginginkan Hidayat mentas dalam pilpres 2009 nanti.

0 komentar:

Template by - Abdul Munir | Daya Earth Blogger Template